Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Mei 2013

Masih Pantaskah Kita Mengeluh?


“Huh, lagi-lagi begini. Kapan sih aku hidup bahagia?”
Mungkin tak sedikit dari kita yang suka mengeluhkan cobaan yang datang dari Allah. Tidak mau bersabar dengan bentuk ujian dari Allah bahkan sampai menyalahkan takdir Allah serta tidak mengakui nikmat yang Allah berikan. Orang-orang yang tidak mau mengakui bahwa sebenarnya ia pernah merasakan kebahagiaan namun mengingkarinya seperti kalimat pembuka di atas.
Untuk belajar bagaimana makna kesabaran ada baiknya kita menyimak kisah dari sahabat mulia Ammar bin Yasir radhiyallahuanhuma. Siapa tak mengenal Ammar bin Yasir? Beliau adalah salah satu imam besar dan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang termasuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun, yakni orang-orang yang pertama kali masuk islam.
Ayahnya bernama Yasir bin Amir  dan Ibunya bernama Sumayyah binti Kubbath. Ayah dan Ibunya adalah orang pertama dan kedua yang menjemput kesyahidan ketika mempertahankan keimanan mereka karena siksaan kafir Quraisy. Kesabaran dan ketabahan yang luar biasa dari mereka mungkin tidak bisa dibayangkan oleh orang-orang di zaman para sahabat apalagi umat Islam pada zaman sekarang ini.
Semenjak keislamannya diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy, keluarga Amar bin Yasir tak luput dari penganiayaan dan penyiksaan. Mereka diseret keluar menuju tanah lapang oleh kaum musyrikin yang dipimpin oleh Abu Jahal di siang hari yang panas dan menyengat. Mereka disiksa dicambuk hingga punggung mereka berdarah-darah. Lebih dari itu mereka disiksa dengan besi panas ditempelkan ke dadanya. Hingga sang ayah, Yasir bin Amir menjemput kesyahidan dalam siksaan tersebut. Sedangkan ibunya Sumayyah binti Kubbath ditusuk  oleh Abu Jahal pada kemaluannya dengan tombak hingga meninggal dunia.
Setelah itu kaum musyrikin tak henti-hentinya menyiksa Ammar dengan menjemurnya, meletakan batu besar panas di atas dadanya hingga penderitaan yang amat sangat dan hilang kesadaran akalnya. Kala itu mereka berkata kepadanya, “Kami akan terus menyiksamu  hingga engkau mencaci Muhammad atau mengatakan sesuatu yang baik terhadap Lata dan Uzza”. Maka, dia pun dengan terpaksa menyetujui hal tersebut. Setelah kejadian itu, dia mendatangi Rasulullah SAW sambil menangis dan meminta maaf atas hal tersebut kepada beliau. Ketika itu turunlah ayat;
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapatkan kemurkaan dari Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir pada hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)..” (QS. An-Nahl : 106)
Diriwayatkan dari Utsman, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Bersabarlah seperti kesabaran keluarga Yasir, karena yang dijanjikan kepada kalian adalah surga.”
Apakah kita pantas mengeluh kepada Allah atas musibah yang menimpa kita, yang jauh lebih ringan dibandingkan penderitaan dan siksaan yang pernah dialami oleh keluarga Ammar bin Yasir? Bahkan sebagian dari saudara kita yang  mengaku kaum muslimin justru ketika mengalami kesusahan mereka mendatangi dukun-dukun, meminta jimat-jimat yang sama sekali tidak akan mendatangkan manfaat bagi mereka.
Ketika kita menerima sebuah ujian dan cobaan hidup hendaklah kita mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan senantiasa bersabar menjalaninya. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan ujian dan cobaan yg melebihi kekuatan hambaNya.
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al Insyiroh ayat 6-7)
Apabila kita sedang dilanda kesulitan dan kegelisahan maka kita dianjurkan memperbanyak doa seperti yang diajarkan oleh Rosulullah SAW berdasarkan hadits berikut
Rasulullah SAW memperbanyak do’a: “Ya Alloh, aku berlindung kepadaMu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalas-an, dari sifat pengecut dan bakhil serta dari tidak mampu membayar hutang dan dari penguasaan orang lain.” (HR. Al-Bukhari).


Referensi:
Al Quranul karim
Kisah Perjalanan Hidup Rosul yang agung Muhammad SAW, dari kelahiran hingga detik-detik terakhir  karya Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri
http://cara-global.blogspot.com/2011/02/ammar-bin-yasir.html
http://cahayamuslimah.com/blog/doa-untuk-kegelisahan-dan-dililit-hutang

Rabu, 22 Mei 2013

Catatan Kecil : Kebaikan itu Relatif Kebenaranlah yang Hakiki

Sebuah Catatan Kecil : Kebaikan itu Relatif Kebenaranlah yang Hakiki

by Alier Bintang Kecil (Notes) on Wednesday, May 22, 2013 at 10:23pm


Kebaikan itu relatif sedangkan kebenaran itu hakiki. Jika kau merasa sesuatu baik untukmu belum tentu itu juga baik untuk orang lain. Maka adalah hal yg keliru jika kita memaksakan apa yg menurut kita baik agar dilakukan pula oleh orang lain.

Namun adalah hal yang salah jika orang mengatakan kebenaran itu relatif. Sebab Yang Maha Benar telah menunjukan bahwa yg benar adalah benar dan yg batil adalah batil kepada para RosulNya untuk diserukan kepada umat manusia.

Seandainya kebenaran itu relatif menurut pandangan masing-masing orang maka seorang pencuri akan mengatakan bahwa mencuri itu tindakan yg benar. Seorang pelacur akan berkata melacur itu juga benar, seorang pemabuk juga berkata mabuk-mabukan itu benar. Karena tidak adanya standar tentang apa itu kebenaran.

Karena antara yang BENAR dengan yg SALAH itu SANGAT JELAS PERBEDAANNYA. Secara fitrah menusia dapat membedakan antara salah dan benar. Meskipun orang jahat sekalipun pasti bisa mengakuinya kecuali orang-orang yg telah ditutup hatinya oleh Allah SWT.
Sementara BAIK dan BURUK kadang kita TIDAK DAPAT MENGUKURNYA. Sebagai contoh kita tahu susu itu sangat baik untuk nutrisi tubuh, namun akan berbeda jika kita tanyakan kepada orang yg alergi susu. Dan berbagai contoh apa yg menurut kita baik belum tentu baik untuk orang lain.

KESIMPULAN:
- Hindarilah men-judge / menghakimi seseorang itu baik atau buruk, namun kita tunjukan kepadanya mana yg benar dan mana yg salah.

- Seorang guru yg bijaksana tidak akan mencap muridnya sbg murid yg buruk akan tetapi ia akan mengarahkan padanya mana jalan yg benar.

Wallahu A'lam

Senin, 22 April 2013

Inikah Cinta yang Membawa ke Jalan Menuju Surga

 
Artikel ini saya ambil dari Eramuslim. Isinya sangat menarik dan Insya Allah sangat bermanfaat bagi kita semua. Tidak bisa dipungkiri setiap manusia khususnya umat Islam sangat merindukan harumnya bau surga. Namun bagaimanakah caranya dan dimanakah jalan menuju surga. Insya Allah akan kita kaji bersama. Selamat membaca :)
 
Setiap individu pasti akan merasai cinta dan mencintai sesuatu. Cinta adalah perasaan halus yang dimiliki hati setiap manusia, dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Islam, cinta merupakan masalah utama dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ini karena Islam sendiri merupakan agama yang berasaskan cinta. Sabda Rasullulah SAW.: "Tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang maka ia akan mendapat manisnya iman, yakni: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lain; mencintai seseorang hanya karena Allah, dan benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka" (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itulah Islam menyeru kepada cinta, yaitu cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah, cinta kepada agama, cinta kepada aqidah, juga cinta kepada sesama makhluk, sebagaimana Allah menjadikan perasaan cinta antara suami istri sebagai sebagian tanda dan bukti kekuasaan-Nya, firman Allah SWT: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS. Ar-Ruum: 21).

Jelaslah bahwa cinta adalah tanda kehidupan ruhani dalam aqidah orang mukmin, seperti halnya cinta juga menjadi dasar dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Selain itu, iman dalam Islam ditegakkan berdasarkan cinta dan kasih sayang, sebagaimana terlukis indah dalam sabda Rasulullah SAW : "Demi Dzat yang diriku ada di tanganNya, kamu tidak akan masuk syurga sehingga kamu beriman, dan kamu tidak akan beriman dengan sempurna hingga kamu saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian." (HR Muslim)

Dalam hadist diatas, Rasullulah SAW menegaskan bahwa jalan menuju ke syurga bergantung kepada iman, dan iman bergantung kepada cinta. Maka cinta adalah syarat dalam iman, rukun dalam aqidah, dan asas dalam agama.

Cinta dalam Islam adalah kaidah dan sistem yang mempunyai batas. Ia adalah penunjuk ke arah mendidik jiwa, membersihkan akhlaq serta mencegah atau melindungi diri daripada dosa-dosa. Cinta dapat membimbing jiwa agar bersinar cemerlang, penuh dengan perasaan cinta dan dicintai.

Sayangnya dalam kondisi saat ini, cinta yang lahir cenderung penuh hawa nafsu dan menyimpang daripada tujuan murni yang sebenarnya. Setiap saat, setiap hari kita dibuai dengan lagu cinta, dibuat terlena dengan tontonan kisah cinta yang menghanyutkan kita ke dunia khayal yang merugikan. Kini bahkan banyak yang menyalahartikan makna cinta sebenarnya, sehingga terdorong melewati batas pergaulan dan tatasusila seorang mukmin.

Untuk itu, renungkanlah sejenak hakikat kehidupan kita di dunia. Rasullulah SAW bersabda: "Tidak sempurna iman salah seorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai diri sendiri." Juga sabda Rasulullah, "Barang siapa ingin mendapatkan manisnya iman, maka hendaklah ia mencintai orang lain karena Allah." (HR Hakim dari Abu Hurairah).

Rabu, 13 Februari 2013

Nasihat Seorang Ibu Untuk Anak Gadisnya yang Akan Menikah


           Suatu saat, Amru bin Hujr seorang raja dari Kandah melamar Ummu Ayyas binti Auf. Saat tiba malam pertama ibunda Ummu Ayyas, Ummamah binti Al Harits memanggil putrinya untuk berbicara empat mata. Saat itulah ia memberikan pesan-pesan kepada putrinya tentang pilar-pilar kehidupan rumah tangga yang bahagia. Pesan itu berkaitan dengan kewajiban seorang perempuan terhadap suaminya. Sang ibu bertutur, "Ananda, kalau pesan ini bisa dicampakkan begitu saja karena sudah ada keutamaan budi pekerti dan kemuliaan keturunan tentu sudah aku campakkan dan sudah kubuang jauh-jauh dari hadapanmu. Akan tetapi pesan ini tetap berguna untuk mengingatkan orang yang lalai sebagai pelajaran bagi orang berakal".

        Ananda! Sesunggguhnya engkau akan meningggalkan lingkungan dimana engkau telah dibesarkan oleh kedua orang tuamu. Engkau akan bertemu pendamping yang belum tentu engkau akan merasa nyaman dengannya. Cobalah selalu memperhatikan dan memantau apa saja yang menjadi milik suamimu. Jadilah layaknya hamba perempuan di sisinya. Cermati sepuluh sikap yang akan menjadi harta karun berharga bagimu kelak.

Pertama, tunduklah kepadanya dengan segala kepuasan

Kedua, selalu mendengar dan menaati ucapannya.

Ketiga, selalu menyelidiki kemana matanya memandang, jangan sampai ia memandang yang jelek.

Keempat, selalu menyelidiki kemana hidungnya mencium aroma, jangan sampai ia mencium bau yang tidak sedap.

Kelima, memperhatikan waktu tidurnya, karena kurang tidur bisa membangkitkan amarah.

Keenam, memperhatikan waktu makannya, karena perut yang lapar bisa mengobarkan kemurkaan.

Ketujuh, mengatur keuangan suami.

Kedelapan, memelihara anak-anaknya odan budak belian yang menjadi milik pribadinya. Kunci mengatur keuangan adalah manajemen yang baik. Kunci memelihara anak adalah pendidikan yang bagus.

Kesembilan, jangan melanggar perintahnya.

Kesepuluh, jangan sebarkan rahasianya. 

        Kalau kita melanggar perintahnya pasti akan menyakiti jiwanya, Kalau engkau menyebarkan rahasianya, maka engkau tidak akan selamat dari kejahatannya. Janganlah sekali-kali bergembira di hadapannya di saat ia sedang bermuram durja. Jangan pula kelihatan bersedih di hadapannya saat ia bersuka ria.

      Sungguh sebuah pesann yang mengagumkan dari seorang ibu yang memiliki segudang pengalaman. Seorang ibu yang penuh pengertian yang menyadari betapa besar kedudukan suami di hadapan istrinya dan betapa hebat kedudukan istri yang taat kepada suaminya. Semoga menjadi bahan renungan untuk saudari-saudari kita yang hendak menuju ke mahligai rumah tangga agar tercipta kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warohmah.


Sumber rujukan: 
-  Abu Umar Basyir. 2005. Gelas-Gelas Kaca : Panduan Praktis Agar Rumah Tangga     
   Tetap Harmonis

Sabtu, 09 Februari 2013

Perumpamaan Mangkuk Yang Cantiik, Madu Yang Manis dan Sehelai Rambut


Rasulullah SAW dengan sahabat-sahabatnya Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar bin Khattab r.a., Utsman bin Affan r.a., dan ‘Ali bin Abi Thalib r.a. bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Fathimah Az Zahra r.ha. putri kesayangan Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut ikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu yang manis, dan sehelai rambut).
Abu Bakar Ash Shiddiq r.a berkata, “iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”.
Umar bin Khattab r.a berkata, “kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Utsman bin Affan r.a. berkata, “ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Ali bin Abi Thalib r.a berkata, “tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Fathimah Az Zahra r.ha. berkata, “seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Rasulullah SAW berkata, “seorang yang mendapat taufiq untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Malaikat Jibril AS berkata, “menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Allah SWT berfirman, ” Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Jumat, 11 Januari 2013

Stop Berkeluh Kesah


Stop Berkeluh Kesah



by Alier Bintang Kecil on Saturday, January 12, 2013 at 12:51am ·





Ternyata hari2 berjalan sangat cepat sampai saya tak menyadari sudah hampir 2 pekan bulan januari. Semuanya terlupakan di kepala ini yang terpikirkan cuma UAS, Skripsi, Project Kantor, LPJ Mubes, Silabus TPA dan tidak sempat utk memberikan porsi perhatian utk sekeliling. Beberapa teman mungkin kecewa dengan perubahan sikap saya. Tapi , Alhamdulullah tidak sampai lupa sholat. Bisa bahaya kalo Allah pun ikut kecewa bisa diadzab nanti.Saya pikir saya harus minta maaf kepada beberapa teman yg kemarin2 saya hindari ketika meminta bantuan. Beberapa undangan rapat pun terpaksa tak bisa dihadiri. Beban pikiran yg masih penuh ini tak cukup utk menerima keluh kesah mereka. Sedang saya sendiri pun berkeluh kesah kepadaNya agar diberi kesabaran dan kemudahan.

Rekaman ceramah salah seorang ustadz yang saya dengar tadi pagi begitu berkesan. Segera membuka mata hati ini, bahwa saya bukanlah orang yang pantas untuk berkeluh kesah. Saya masih diberikan begitu banyak kenikmatan yang harus disyukuri. Astaghfirullah,Laa illaha illa Anta inni kuntum minadzolimin. Sesungguhnya saya orang2 yg mendzolimi diri sendiri. Begitulah doa taubat Nabi Yunus a.s ketika berputus asa dari kaumnya.

Saya ingin bercerita sebuah kisah yang membuat saya benar2 menangis. Ya, saya akui saya menangis sewaktu mendengar kisah ini. Saya bukan menangisi kesedihan dari cerita ini, saya menangisi betapa selama ini saya kurang dapat bersyukur atas nikmat yang begitu besar dari Allah Azza Wajala.

Baiklah mungkin teman penasaran seperti apakah kisah yang membuat saya benar2 menangis. Simaklah baik2.

Ada seorang prajurit kerajaan pada zaman kekhalifahan bani umayah ditugaskan utk menjaga daerah perbatasan yg isinya cuma gurun kering kerontang.
Sehari dua hari ia berkeluh kesah dengan pekerjaannya tsb. Suatu ketika ia bosan terus menerus harus berjaga di pos penjagaan, maka berkelilinglah ia di sekitar pos penjagaan dan hanya didapatinya padang pasir luas kering di sekeliling pemandangannya. Namun, tiba2 matanya melihat ada bangunan seperti gubuk tua nan reyot diantara gurun kering tsb. Maka didekatilah gubuk tua itu dan dilihatnya pula didalamnya seorang kakek tua sedang bermunajat kepada Rabbnya. Didengarlah oleh si prajurit tsb apa yg sedang diminta oleh kakek tua itu dalam doanya.
Kakek tsb berdoa "Ya Allah, sungguh tiada satupun nikmat yang Engkau berikan dapat aku dustakan. Betapa banyak nikmat yg Engkau berikan kepada hamba. Sungguh Engkau telah memberikan karunia yg besar kepada hamba yg tidak Engkau berikan kepada hambaMu yg lain. Maka ajarkanlah hamba menjadi orang yg pandai bersyukur lagi bersabar."
Si prajurit ini penasaran dengan apa yg diucapkan si kakek dalam doanya. Maka kemudian ia mendekati si kakek utk menanyakan karunia apa yg Allah berikan kepadanya yg tidak Allah berikan kepada hambaNya yg lain. Lalu ia mengucapkan salam, tetapi si kakek tidak menjawab. Ia dekati lagi si kakek dan berucap salam, tapi masih tidak ada jawaban. Prajurit ini pun kesal dan ketika dalam jarak 1 meter ia berteriak keras dan bertanya kenapa salamnya tidak dijawab.
Dan kakek tsb meminta maaf tidak menjawab salamnya karena rupanya si kakek agak tuli pendengarannya. Lebih dari itu si kakek ini juga buta dan kakinya pun buntung. Melihat kondisi tsb si prajuritpun iba dan minta maaf atas ketidaktahuannya terhadap kondisi si kakek. Lantas ia menanyakan tentang rasa penasarannya kepada si kakek.
"Kakek, tadi saya mendengar sewaktu kakek berdoa. Saya heran mengapa kakek berdoa seperti itu. Nikmat apa yg Allah berikan kepada kakek sedangkan kondisi kakek ini sangat memprihatinkan. Karunia apa yg kakek maksud yg tidak diberikan Allah kepada orang lain, sementara kakek sendiri seorang yg miskin, buta, tuli dan cacat?"
"Wahai anak muda, memang aku ini miskin, buta, tuli dan kakikupun tiada. Tapi apa kau tidak menyadari Allah masih memberiku lisan sehingga aku masih bisa berdzikir, sehingga aku masih bisa bersyukur dan aku masih bisa membaca Al Quran dari hafalanku sebelum aku buta. Tidakkah engkau berpikir bahwa ini adalah suatu karunia Allah yg besar untukku yg tua renta ini?"
si prajurit hanya bisa terdiam sambil matanya berkaca-kaca lantas si kakek melanjutkan perkataannya.
"Lebih dari itu Wahai anak muda,sesungguhnya aku masih punya seorang anak yg sangat berbakti kepadaku. Ia selalu menemaniku, mencarikan makan untukku, memberikan air wudhu kepadaku. Namun anak muda, sudah 3 hari ini anakku belum pulang, sungguh aku sangat khawatir terhadapnya. Bisakah engkau membantu untuk mencari keberadaannya?"
Maka terbayanglah oleh si prajurit tsb bahwa kakek ini sesungguhnya sedang kelaparan, sudah 3 hari perutnya tak tersentuh makanan sedikitpun. Maka ia memutuskan utk memberinya sedikit bekal yg ia bawa dan kemudian mencari kemana si anak kakek tua itu pergi.

Kesana kemari si prajurit itu mencari tetapi tidak ada seorangpun yg ia temui di padang tandus tsb. Lalu ia pergi ke atas bukit dengan harapan siapa tahu ia bisa menemukannya. Dipandangilah sekeliling bukit tsb, lantas ia melihat seperti ada sosok manusia di sebuah lembah dan ia bergegas turun ke lembah tsb. Singkat cerita sosok manusia yg terbaring di atas tanah itu memiliki ciri2 yg sama spt anak yg diceritakan oleh si kakek. Rupanya anak si kakek tersebut sudah meninggal dunia dan mayatnya tercabik2 oleh binatang buas. Setelah menguburkan mayat tsb maka kembalilah ia ke gubuk si kakek tua tsb. Tapi ia bingung apa yg harus ia katakan kepada si kakek tatkala kakek itu menanyakan kondisi anaknya.
Lalu berkatalah si prajurit itu kepada si kakek
"Kek, lebih mulia mana Nabi Ayyub a.s dengan kakek?"
"Jelas Nabi Ayyub lebih mulia beliau seorang Nabi dan Rosul, sedang saya hanya manusia biasa""Allah memberikan cobaan yg begitu berat kepada Nabi Ayyub a.s lantas apa yg beliau lakukan tatkala menderita penyakit yg luar biasa sakitnya dan dikucilkan dari kaumnya?"
"Beliau selalu bersabar dan bersyukur atas nikmat Allah",jawab si kakek
"Lebih dari itu istrinya pun akhirnya meninggalkannya tetapi beliau tetap sabar dan tabah", tambah si prajurit
Si kakekpun agak curiga dengan apa yg disampaikan prajurit itu lalu ia bertanya
"Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku, dimana putraku berada? Mengapa kau justru mengalihkan pembicaraan?"
Si prajurit tak dapat menahan tangisnya seraya menjawab "Sesungguhnya putramu telah meninggal dimakan binatang buas dan saya telah menguburkannya"
Si kakek pun berkata "Innalillahi Wainna ilaihi rojiun, Sesungguhnya semua ini hanya milikMu ya Allah dan hanya kepaMu lah semuanya akan dikembalikan. Maka terimalah semua rasa syukurku atas semua nikmat yg Engkau berikan kepadaku"Selang beberapa saat kemudian si kakek pun mengucapkan syahadat dan akhirnya ia pun menyusul kepergian anaknya. Maka dikuburkanlah mayat si kakek itu oleh prajurit tsb dan kemudian ia kembali ke pos penjagaannya.

Malam harinya ia bermimpi bertemu dengan kakek tua itu sedang berlari2an di dalam taman surga. Maka ia bertanya kepada kakek itu "Bukankah engkau kakek tua yang baru tadi siang saya kuburkan? Kenapa kau berlarian di taman surga ini bukankah engkau cacat?""Ya, engkau benar wahai anak muda. Rasa syukur atas nikmat Allah-lah yg telah memasukanku ke dalam surgaNya" 

Dan si prajurit tsb akhirnya sadar bahwa bagaimanapun kondisi di dunia ini maka sepantasnya manusia bersyukur atas nikmat yg diberikan Tuhannya kepadanya. Tidak sepantasnya kita berkeluh kesah dengan semua kenikmatan yg telah Allah berikan. Bukankah Allah telah berjanji dalam firmanNya QS. Ibrahim ayat 7 bahwa barangsiapa yg mensyukuri nikmatKu maka akan Ku tambahkan nikmatKu kepadanya, dan barang siapa mengkufuri nikmatKu sungguh adzabKu sangatlah pedih.
Dan bukankah Allah telah berfirman dalam QS. Al Insyiroh ayat 5 dan 6 "Maka Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, Sungguh bersama kesulitan itu ada kemudahan"Dan Allah juga berfirman : "Tidak ada satupun hewan melata yg berjalan di muka bumi ini melainkan Allah telah memberikan bagian rizki untuknya" 

Tulisan ini untuk mengingatkanku dan mengingatkanmu untuk menjadi orang yg pandai bersyukur. Dan juga sebagai permohonan maaf untuk beberapa teman yg mungkin telah saya kecewakan akhir2 ini.