Kamis, 12 Juni 2014

Dia Berhak Mengenal Tuhannya

(image from : http://darussalam-online.com)

(bagian 1)

Di pagi yang cerah di kala burung asyik bermain di atas ranting-ranting pohon kecil. Beterbangan kesana kemari riang gembira bak cerita dalam lagu anak-anak zaman dahulu kala. Mungkin duduk-duduk di bangku serambi depan adalah salah satu kebiasaan keluarga ini. Sang ayah membaca koran dan sang ibu membuatkan minuman teh hangat beserta cemilan pisang goreng hangatnya. Hemmm nikmaaatt... Lalu sang anak?. Jangan ditanya lagi sang anak sedang hobi sekali mengerjai Abi-nya merengek manja minta disuapi secomot pisang goreng yang aduhai nikmatnya itu. Nakal memang kanak-kanak usia empat tahun itu. Tapi jangan salah Abi-nya juga tidak kalah 'nakal' padanya. Alih-alih menyuapkan pisang goreng buatan Ummi yang terkenal kelezatannya itu, eh malah diembatnya sendiri pisang goreng itu oleh si Abi. 
"Ih, Abi... itu kan punya Alif Bii.", wajahnya cemberut sebal dengan mimik yang lucu menggemaskan.
"Kata siapa?, itu jatah Alif masih di piring masih ada", timpal sang ayah tidak mau mengalah.
"Tapi kan, Alif mau disuapin sama Abi!", teriaknya dengan mimik wajah yang membingungkan antara mendengus sebal atau mau mencari simpati.
"Ya sudah, Abi suapin tapi jawab pertanyaan Abi ya", kata Abi tegas (kalau saya boleh berkomentar raut wajahnya mirip dengan pemandu acara kuis di stasiun teve itu yang seolah-olah mengisyaratkan Anda Benar Saya Bayar,Hahaha).
"Oke, Abi apa pertanyaannya?", si anak bersemangat (karena iming-iming pisang goreng tentunya).
"Siapakah Tuhan kita?", tanya Abi serius tapi santai.
"Alif nggak tahu Bi", si anak mengernyitkan keningnya seraya garuk-garuk kepalanya yang cuma ditumbuhi rambut tipis itu (Abi-nya rajin memotong rambutnya tiap dua bulan).
"Kok, nggak tahu. Orang Islam harus tahu siapa Tuhannya", jawab Abi ringkas.
"Tapi Alif memang belum dikasih tahu Bi, lagian dia kan masih balita belum baligh", kali ini Umi ikut nimbrung belain anaknya.
"Umi, meskipun dia belum baligh tapi apakah ada jaminan bahwa kita sebagai orang tuanya diberikan kesempatan hidup hingga ia usia baligh?", jawab Abi bak seorang ustadz kondang hendak memberi sentuhan rohani.
"Dia adalah amanah yang harus kita jaga. Bukankah Allah Azza Wajala telah mengambil kesaksian seraya berfirman kepada setiap anak cucu Adam sebelum ia dilahirkan. 'Bukankah AKU ini TUHANMU?', lalu mereka menjawab 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi'. Maka semenjak saat itu tidak ada satupun alasan bagi manusia untuk tidak mengenal Tuhannya. Manusia dilahirkan sudah memiliki fitrah mengenal adanya Tuhan yang berkuasa atas dirinya dan alam di sekitarnya. Hanya saja ketika ia lahir ke dunia ia seakan lupa bagaimana menyembah Tuhannya. Tugas orang tuanyalah yang mengajarkannya. Setiap manusia berhak mengenal Tuhannya, begitu juga anak kita", sambung Abi dengan suara yang mantap.
Demi melihat semburat kebingungan di mata anaknya yang seakan-akan bertanya "Abi,Umi kalian ngeributin apa sich?" maka perlahan-lahan Abi mulai menerangkan kepada Alif sang buah hatinya tentang siapa itu Allah, mengapa kita harus menyembah-Nya, apa yang Allah janjikan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan apa yang Allah berikan kepada orang-orang yang durhaka kepadaNya.
Si Alif kecil pun hanya manggut-manggut tanda mengerti atau bahkan sebaliknya bingung dengan pengetahuan-pengetahuan yang baru didapatnya. Masih banyak pertanyaan yang seolah seperti serangan balik dari pertanyaan ayahnya.
"Lantas dimana Alif bisa melihat Allah Bi?", tanya alif polos.
Tuh kan belum apa-apa sudah menanyakan pertanyaan yang mungkin sulit dijawab oleh para orang tua yang tidak mendalami agama. Awalnya dijawab Allah di langit. Lalu ditanya di langit yang mana dijawab langit ketujuh paling atas sekali. Di Bintang ya?, bukan tapi Allah-lah yang menciptakan bintang. Lalu dimana?. Dan karena saking frustasinya dan kedangkalan ilmunya kemudian dijawab Allah ada dimana-mana nak, di langit di bumi di hatimu. Dan hancurlah sudah akidah anak sedari kecil.
Namun sang ayah punya jawaban yang hebat untuk pertanyaan kritis anaknya yang masih polos itu.
"Allah ada di Arsy, singgasana Allah berada di langit ketujuh. Tapi Allah bisa tahu segala sesuatu yang terjadi di bumi ini baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Karena Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar. Allah lebih dekat dari urat nadi kita bahkan sangat dekat dengan leher kita. Allah Maha Besar tidak ada sesuatupun yang menandingi kuasa-Nya. Ia jauh namun dekat bagi hamba-Nya yang ingin mendekat namun Ia seakan tak terlihat bagi orang yang menjauh dari-Nya padahal kasih sayang Allah selalu Ia curahkan kepada seluruh alam semesta ini dan segala isinya. Ibarat kau melihat rembulan di malam hari maka seolah kau menganggap bulan akan selalu mengikuti kemana langkahmu namun sejatinya ia tetap di atas sana. Begitulah ilmu Allah melingkupi semua isi langit dan bumi. Namun jangan khawatir nak, suatu saat kamu insya Allah akan bisa melihat wajah-Nya.", jelas Abi.
"Kapan itu Bi?", Alif menyela tanda rasa penasarannya memuncak.
"Ketika kita sudah berada di surga. Allah menjanjikan kepada hambaNya yang beriman untuk bisa melihat wajahNya di surga. Dan itulah kenikmatan yang tidak pernah bisa dibayangkan sebelumnya. Bahkan mengalahkan kenikmatan hidup dan tinggal di surga Allah yang indah itu",jawab Abi.
 "Alif ingin ke surga Bi!, Alif ingin melihat Allah!",ucap Alif riang.
"Iya, nak kita sama-sama berdoa agar kita diselamatkan oleh Allah dari adzab neraka dan dimasukan ke surgaNya kelak", balas Abi.
"Aamiin...", ucap Alif, Abi dan Umi (yang dari tadi sedikit dikasih kesempatan ngomong) kompak.

ALLAHHU AKBAR, ALLAHU AKBAR!... Tak disangka adzan sholat dzuhur pun berkumandang (padahal di jam si penulis baru menunjukan pukul 9.56 pagi) tanda keluarga ini harus memenuhi panggilan kepada Rabbnya. Dengan balutan keimanan dan akhlak mulia menjejakan langkah kaki ke masjid (yang entah kenapa membuat iri sang penulis) bermunajat bersama-sama kepada Sang Khaliq.

***
Sebuah cerita sangat pendek ini saya tujukan kepada saudara-saudaraku sekalian khususnya bagi yang sudah mendapatkan buah hati, bagi yang sedang menantikan putra-putri, bagi yang hendak melangsungkan ikatan suci, pun juga bagi yang masih menantikan Teman Hidup yang dirahasiakan Illahi.

Semoga Bermanfaat :)

Selasa, 06 Mei 2014

SEBAB-SEBAB “TIDAK DIKABULKANNYA” DOA


Setiap kita tentunya biasa berdoa kepada Allah. Kita memohon kepada-Nya agar hajat dan keinginan kita Ia kabulkan. Ketika kita benar-benar butuh, tidak jarang kita berdoa sambil mengiba kepada Allah. Namun barangkali tidak jarang kita merasa doa kita tidak dikabulkan, atau setidak-tidaknya tidak segera dikabulkan.

Ketika seseorang merasa doanya tidak kunjung dikabulkan, tidak jarang sejak saat itu ia pun tidak lagi berdoa dan tidak punya harapan bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah. Padahal sikap seperti ini dilarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selagi ia tidak buru-buru. (Yakni jika) ia berkata, ‘Aku telah berdoa kepada Tuhanku, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Dalam lafazh Muslim disebutkan: “Ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan minta agar doa segera dikabulkan?’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ’(Yakni) hamba itu berkata, ‘Aku berdoa dan berdoa, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (HR Muslim)
Kita semestinya menyadari bahwa ada banyak sebab mengapa sebuah doa tidak segera dikabulkan oleh Allah. Kita juga hendaknya paham bahwa hikmah besar pasti selalu ada di balik tidak dikabulkannya doa dalam waktu cepat. Di antara sebab dan hikmah itu adalah sebagai berikut.

Pertama, bisa jadi penyebab tertundanya pengabulan doa kita adalah karena kita belum memenuhi syarat-syarat diterimanya doa. Misalnya, kita tidak menghadirkan hati, tidak khusuk dan tidak merendahkan diri saat berdoa, kita berdoa bukan pada waktu dimana doa akan mudah dikabulkan, atau kita belum memenuhi syarat-syarat doa penting lainnya.

Kedua, terkadang doa tidak terkabul dikarenakan sebab tertentu seperti karena dosa yang kita belum bertaubat darinya, karena dosa di mana kita tidak bertaubat dengan jujur darinya, karena makanan kita mengandung syubhat, atau karena ada hak milik orang lain pada diri kita dan kita belum mengembalikannya. Karena itu, kita hendaknya bertaubat dengan taubatan nashuhah, dengan melengkapi syarat-syaratnya dan mengembalikan hak orang lain kepada pemiliknya terlebih dahulu hak orang lain tersebut masih ada pada diri kita. Inilah sebab terpenting tidak dikabulkannya doa. Disebutkan dalam hadits bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,“Hai Sa’ad (bin Abu Waqqash), makanlah makanan yang baik-baik, niscaya engkau menjadi orang yang doanya dikabulkan.” Juga disebutkan dalam sebuah hadits shahih bahwasanya Rasulullah mengisahkan seseorang yang rambutnya acak-acakan dan berdebu lalu menengadahkan tangannya ke langit untuk berdoa, ‘Ya Allah, ya Allah.’ Padahal, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan keluarganya diberi makan dari sumber yang haram. Bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad). Oleh karena itu, kita harus berusaha membersihkan diri dari segala kotoran dosa yang bisa menjadi menghalangi ‘jalan-jalan’ terkabulnya doa.

Ketiga, bisa jadi Allah tidak mengabulkan doa kita karena Allah sengaja hendak menyimpan pahala doa kita tersebut untuk Ia berikan kepada kita di akhirat kelak atau karena Ia hendak menghilangkan keburukan dari kita. Diriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,“Jika di atas bumi ada seorang muslim berdoa kepada Allah dengan satu doa, maka Ia akan mengabulkan doa itu atau menghilangkan keburukan darinya, selagi ia tidak mengerjakan dosa atau memutus hubungan kekerabatan.” Seseorang berkata, “Bagaimana kalau kita memperbanyak doa?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah akan lebih banyak lagi mengabulkan doanya atau menghilangkan keburukan darinya.” (HR At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Hakim). Dalam riwayat Al-Hakim ada tambahan: “Atau Allah akan menyimpan pahala seperti doanya itu untuknya.” (HR Al-Hakim). Bisa jadi, ini lebih baik bagi kita, sebab dengan disimpannya pahala doa kita di akhirat dan baru diberikan kepada kita saat itu, maka hal itu akan mengangkat derajat dan martabat kita di akhirat. Saat itu, kita akan berbahagia dan bahkan berharap sekiranya seluruh pahala doa kita disimpan dan baru dibagikan di akhirat.

Keempat, penundaan terkabulnya doa merupakan salah satu bentuk ujian dari Allah kepada seseorang. Allah ingin menguji iman orang itu. Ketika doa tidak segera dikabulkan, syetan membisikkan pikiran jahat kepada seseorang, dengan berkata kepadanya, “Apa yang kita minta itu ada pada Allah. Tetapi mengapa doa kita tidak segera dikabulkan?” Begitu pula, syetan akan menyusupkan bisikan-bisikan jahat lainnya. Setiap muslim harus melawan bisikan-bisikan jahat seperti itu dan mengusirnya dari dirinya, dengan segala sarana. Ia harus sadar bahwa bisa jadi Allah tidak segera mengabulkan doanya karena Allah hendak menguji imannya. Ketika doa tidak segera dikabulkan, maka iman seseorang teruji dan terlihatlah perbedaan antara orang beriman sejati dengan orang beriman gadungan. Sikap seorang mukmin tidak akan berubah terhadap Tuhannya hanya karena doanya tidak segera dikabulkan dan malah ia semakin rajin beribadah kepada-Nya.

Kelima, tidak segera dikabulkannya doa semestinya membuat seorang muslim tahu dan menyadari sebuah hakikat penting. Yaitu bahwa ia adalah hamba Allah, sementara Allah iadalah pemilik segala-galanya. Pemilik berhak berbuat apa saja terhadap miliknya, baik memberi ataupun tidak memberi. Jika Allah mau memberi, maka itu salah satu bentuk keadilan-Nya dan Ia pasti punya alasan yang kuat untuk itu. Sedangkan jika Ia tidak memberi, itupun salah satu bentuk keadilan-Nya dan Ia juga pasti punya alasan yang kuat untuk itu. Ada baiknya kita merenungkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam setelah Perdamaian Hudaibiyah yang sepintas lalu merugikan Rasulullah dan kaum muslimin. Ketika itu beliau bersabda,”Aku Rasulullah dan Allah tidak akan pernah akan menelantarkan aku.” (HR Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Keenam, terkadang doa yang tidak segera dikabulkan justru akan membuat kita semakin dekat kepada Allah, terus bersimpuh di hadapan-Nya, selalu merendahkan diri dan berlindung diri kepada-Nya. Sebaliknya, tidak jarang jika permintaan kita dikabulkan, maka kita menjadi lebih sibuk, lalu kita tidak lagi ingat kepada Allah, tidak meminta dan berdoa kepada-Nya, padahal keduanya adalah inti ibadah. Inilah realitas sebagian besar kita. Buktinya, jika tidak ada cobaan maka kita tidak berlindung kepada Allah.

Ketujuh, bisa jadi terkabulnya doa kita justru akan menjadikan kita berbuat dosa, akan berdampak buruk pada agama kita, atau akan menjadi fitnah bagi kita. Atau bisa juga apa yang kita minta itu sepintas lalu baik bagi kita padahal sebenarnya tidak baik bagi kita. Yang demikian ini terutama bagi seseorang yang mengajukan permintaan tertentu yang sangat spesifik kepada Allah dan tidak berdoa dengan doa-doa yang telah dituntunkan dalam Al-Qur’an atau yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Karena itu hendaknya kita memperhatikan doa-doa yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

Kedelapan, setiap doa punya ketentuan dan takaran. Adalah tidak masuk akal, hari ini seseorang yang amat miskin dan tidak melakukan usaha yang signifikan berdoa agar ia menjadi milyarder kaya raya pada esok paginya. Doa memiliki takaran, syarat, sebab, prolog, kerja keras, dan bahkan pengorbanan yang besar.
Kita harus ingat bahwa ketika Nabi Ya’qub ‘alaihissalam kehilangan anak kesayangannya, Nabi Yusuf ‘alaihissalam, beliau tidak henti-hentinya berdoa dan berdoa. Tapi pengabulan doa beliau tertunda hingga waktu yang lama, hingga ada yang mengatakan, “Nabi Ya’qub berdoa selama empat puluh tahun.” Penderitaan dan cobaan yang dialami Nabi Ya’qub ‘alaihissalam semakin meningkat. Anaknya yang lain, Bunyamin, juga hilang, sampai-sampai kedua matanya buta karena kesedihan yang mendalam. Kendati demikian, beliau tetap optimis bahwa semua penderitaan tersebut suatu saat akan berakhir. Ketika itulah, beliau berkata,“Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (Yusuf: 83).
Demikian pula, Nabi Musa ‘alaihissalam pernah berdoa kepada Allah “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan pada kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakan harta benda mereka, dan kuncilah mati hati mereka, karena mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (Yunus: 88). Namun konon Allah baru mengabulkan doa beliau tersebut, sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah “Sesungguhnya permohonan kalian berdua dikabulkan” (Yunus: 89), setelah empat puluh tahun lamanya! Padahal yang berdoa adalah Nabi Musa ‘alaihissalam, salah seorang dari rasul-rasul Ulul ‘Azmi, sedangkan yang mengamininya adalah Nabi Harun ‘alaihissalam, seorang nabi yang mulia. Keduanya telah memenuhi semua syarat dan etika berdoa. Sementara pihak yang didoakan celaka ialah Fir’aun dan konco-konconya, yang sudah jelas manusia paling dzalim, fasik, dan kafir saat itu. Meski begitu, doa Nabi Musa tidak segera dikabulkan Allah, sebab doa tersebut adalah doa yang tidak sembarang doa. Diperlukan kerja keras dan pengorbanan untuk mewujudkannya. Itulah yang dimaksud dengan takaran doa. Dan ini harus benar-benar kita pahami.
Itulah beberapa hal yang menjadi penyebab sebuah doa tidak terkabul, berikut hikmah yang ada dibaliknya. Dengan mengetahui penyebab-peyebab dan hikmah-hikmah tersebut, semoga kita menjadi orang-orang yang tidak pernah bosan berdoa, karena doa adalah inti ibadah. Wallahu a’lam bish-shawab.

SUMBER

Kamis, 31 Oktober 2013

Kepribadian Menurut Golongan Darah


Pada tahun 1930-an Takeji Furukawa (1891-1940) ditetapkan untuk menyangkal gagasan ini dan gagasan baru lahir.Namun, gagasan kepribadian yang dipengaruhi oleh jenis darah tetap. Perusahaan di Jepang bahkan telah dibagi pekerja menurut jenis darah.
Berikut adalah ide-ide umum dari setiap jenis darah. Faktor Rh tidak memainkan peran dalam jenis darah / ide kepribadian:
Jenis O:
Jenis O adalah keluar, dan sangat sosial. Mereka adalah inisiator, walaupun mereka tidak
selalu menyelesaikan apa yang mereka mulai. Kreatif dan populer, mereka senang menjadi pusat perhatian dan tampil sangat percaya diri.
Tipe A:
Sementara tampak tenang, mereka memiliki standar tinggi seperti (perfeksionis) bahwa mereka cenderung bola saraf di dalam. Tipe A adalah yang paling artistik dari golongan darah. Mereka bisa pemalu, apik,, dapat dipercaya, dan sensitif.
Tipe B:
Tujuan berpikiran berorientasi dan kuat, tipe B akan memulai sebuah tugas dan terus sampai selesai, dan diselesaikan dengan baik. Tipe B adalah individualis kategori golongan darah dan menemukan cara mereka sendiri dalam hidup.
Jenis AB:
Jenis AB adalah kepribadian membagi kelompok darah. Mereka bisa menjadi keduanya keluar dan pemalu, percaya diri dan pemalu. Sedangkan bertanggung jawab, tanggung jawab terlalu banyak akan menimbulkan masalah. Mereka dapat dipercaya dan suka membantu orang lain.
Kompatibilitas dengan Grup Darah:
A is most compatible with A and AB
B is most compatible with B and AB
AB is most compatible with AB, B, A and O
O is most compatible with O, and AB
                       
                        
                            
                       
                        
                           
                             
                            

Senin, 28 Oktober 2013

Sunnah Menempati Rumah Baru





Tanya :


Apa saja sunnah sebelum menempati rumah baru? Apakah membaca Al Baqarah saja? Rumah cukup lama tidak ditempati sebelumnya.

Jawab :
Bismillahirrahmanirrahim,

Di antara sunnah menempati rumah baru,
Pertama: Adalah dengan menyebut nama Allah dan ta’awwudz (meminta perlindungan dari syaitan. Diriwayatkan dari hadits Jabir radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


إذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيتَهٌ فَذَكَرَ اللهَ عِندَ دُخُولِهِ وَعِندَ طَعَامِهِ ، قَالَ الشَّيطَانُ : لَا مَبِيتَ لَكُم وَلَا عَشَاءَ ، وَإِذَا دَخَلَ فَلَم يَذكُرِ اللهَ عِندَ دُخُولِهِ ، قَالَ الشَّيطَانُ : أَدرَكتُمُ المَبِيتَ ، وَإِذَا لَم يَذكُرِ اللهَ عِندَ طَعَامِهِ قَالَ : أَدرَكتُمُ المَبِيتَ وَالعَشَاء

“Apabila seseorang di antara kalian masuk kedalam suatu rumah, lalu dia menyebut nama Allah di saat masuk dan di saat makan, maka syaitan akan berujar: tiada tempat menginap dan tiada makan malam. Dan apabila dia masuk ke dalam rumah tersebut dan tidak menyebut nama Allah, maka syaitan akan mengatakan: Kalian telah mendapatkan tempat menginap. Dan apabila orang tersebut tidak menyebut nama Allah disaat makan, syaitan akan berkata: ‘kalian telah mendapatkan tempat menginap dan makan malam’ “ Diriwayatkan oleh Imam Muslim
Dan diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari,

Kedua: Membaca doa

مَا شَاءَ اللهُ لَا قُوَّةَ إِلا بِاللهِ

“Masya Allah, tiada kekuatan kecuali bagi Allah semata.”
Allah subhanahu wata’ala berfirman di dalam al-Qur`an al-Kariim,


وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِن تُرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالاً وَوَلَداً

“Dan sekiranya ketika engkau memasuki kebunmu dan engkau mengatakan, ‘Masya Allah tiada kekuatan kecuali bagi Allah semata’, sungguh engkau akan mencapatiku lebih sedikit harta dan keturunan darimu.” (al-Kahfi: 39)

Ketiga: Juga disunnahkan untuk membaca doa

الحَمدُ لِلَّهِ الذِي بِنِعمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

“Segala puji bagi Allah, yang dengan segala nikmat-Nya, setiap amal-amal kebaikan menjadi sempurna.”

أَنَّهُ كَانَ إِذَا رَأَى مَا يَسُرُّهُ قَالَ : الحَمدُ لِلَّهِ الذِي بِنِعمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

“Bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat sesuatu yang menggembirakan beliau, beliau mengucapkan: Segala puji bagi Allah, yang dengan segala nikmat-Nya, setiap amal-amal kebaikan menjadi sempurna.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, al-Hakim dari hadits Aisyah radhiallahu ‘anha dan dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah di dalam ash-Shahihah.

Keempat: Disunnahkan pula, dan berlaku umum termasuk disaat memasuki rumah yang baru untuk. Membaca al-Qur`an di dalam rumah tersebut, terlebih surah al-Baqarah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تَجعَلُوا بُيُوتَكُم مَقَابِرَ ، إِنَّ الشَّيطَانَ يَنفِرُ مِنَ البَيتِ الذِي تُقرَأُ فِيهِ سُورَةُ البَقَرَةِ

“Janganlah jadikan rumah-rumah kalian layaknya pemakaman, karena sesungguhnya syaitan akan lari menjauh dari rumah yang dibacakan surah al-Baqarah di dalam rumah tersebut.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah.

Kelima: Oleh sebagian ulama, disunnah untuk mengadakan ‘walimah’ sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan berupa kediaman/rumah yang baru.

Allah ta’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan disaat Rabb kalian menyeru: Sesungguhnya jika kalian bersyukur niscaya akan Saya akan menambah nikmat bagi kalian dan apabila kalian ingkar maka sungguh siksaku amatlah pedih.”
Walimah semacam ini oleh sebagian ulama, dinamakan ‘al-wakiirah. Dengan mengadakan jamuan serta mengundang beberapa orang.

Wallahu A’lam.

(Ustadz Rishky AR)